Senapan SIG 552 Commando Batal Dipakai Tontaipur, Oleh Kopassus Diandalkan untuk Pembebasan Sandera

0
111

Minggu, 19-11-2017
TSM-Pada saat Jenderal Ryamizard Ryacudu masih menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), beliau memvisikan pendirian unit khusus Tontaipur atau Peleton Intai Tempur Kostrad sebagai elemen tim kecil Kostrad yang bertugas untuk melakukan operasi berkategori khusus seperti patroli jarak jauh, pengintaian, dan penjebakan lawan. Sebagai pasukan berkualifikasi khusus, mereka pun dipersenjatai dengan senjata yang berbeda dengan yang digunakan oleh infantri.

Senjata utama yang dipilih untuk Tontaipur haruslah senjata yang kompak, ringan, berkapasitas besar dan memiliki kemampuan tembak otomatis. Dari sekian banyak kandidat, terpilihlah SIG 552 Commando, varian dari senapan serbu SIG 550. Senapan ini berukuran kompak, memiliki keandalan yang sama dan bahkan lebih dari AK-47, dan ergonominya sempurna. Namun sayang, karena ketika itu kemampuan negara masih terbatas akibat dampak krisis ekonomi, akhirnya Tontaipur pun terpaksa menggunakan senapan seperti AK-101 dan AK-103 serta Galil.

Melihat sekujur tubuh SIG 552, orang akan merasakan aura senjata yang kokoh. Bagaimana tidak, dimulai dari laras saja, SIG sudah memasangkan laras model cold hammer forged alias tempa dingin. Proses hammer forged ini dilakukan secara simultan mulai dari bore sampai ke chamber (kamar peluru), sehingga kesejajaran antar bore dan chamber dimaksimalkan untuk menjaga akurasi.

Biarpun dari segi biaya pembuatan terhitung mahal, namun laras yang dibuat dengan teknik ini akan memiliki daya tahan yang lebih lama, plus tidak mudah memuai saat digunakan untuk tembakan rentetan panjang. Dihitung-hitung, rata-rata usia pakai laras SIG 552 bisa melewati jumlah 15.000 peluru sebelum mulai kehilangan akurasinya.

Beralih ke soal pisir, SIG 552 memang mengadopsi bentuk pisir model drum – ghost ring ala keluarga HK G3 atau MP5, satu nilai plus bagi kesatuan khusus yang juga menggunakan MP5. Pisir belakang yang berbentuk drum memiliki empat setelan, masing-masing untuk kelipatan 100 meter. Harus diakui, pisir ini memang unggul karena memiliki profil yang rendah, sehingga posisi kepala penembak relatif lebih terlindungi dibandingkan dengan, katakanlah, M16 yang menempatkan posisi pisirnya di carry handle yang tinggi.

Tentu saja sebagai pabrikan ternama , SIG tidak mau dituduh sekedar menjiplak. Untuk menyempurnakannya, SIG menambahkan fitur night sight ke dalam pisir SIG 550 pada posisi 1 untuk jarak 100 meter. Jika milik G3 pada posisi ini hanya berupa open sight, maka SIG mengubahnya menjadi model sharpshooting cup ala M16 plus dua titik tritium di kanan-kirinya.

Bila mau digunakan, operator tinggal mengeset pisir belakang ke posisi 1 dan menaikkan pisir night sight di bagian depan. Dengan bantuan tiga titik tritium yang berpendar di kegelapan malam, pengguna tidak perlu memakai night vision goggles yang belum tentu tersedia. Sebagai pelengkap terakhir, pisir milik SIG 550 dapat disesuaikan untuk elevasi dan pengaruh angin dengan bantuan dua sekrup yang disediakan.

Untuk urusan magasen, teknisi SIG Bruno Schwaller merancang magasen polimer untuk dipasangkan ke SIG 552, sama seperti keluarga besar SIG 550 lainnya. Kekuatan magasen ini tidak kalah dari magasen alumunium, karena ketika diuji dengan dibanting ke beton dari ketinggian 1,5 meter sebanyak 45 kali, magasen SIG 550 ini tidak pecah ataupun berubah bentuk. Selain itu, magasen polimer ini tahan api dan tidak membeku di suhu sampai minus 30 derajat celcius.

Dengan kode paten #4.484.403, magasen ini juga dirancang transparan, sehingga penembak bisa melihat langsung jumlah peluru yang tersisa tanpa repot mengira-ngira. Penghitungan bahkan tidak perlu dilakukan satu-persatu, karena ada pula marking di magasen untuk jumlah 10 dan 20 peluru. Yang lebih hebat lagi, SIG memperkenalkan sistem Multipack di mana pengguna bisa menempelkan tiga atau lebih magasen sekaligus berkat adanya pengait (clamp slot-stud) di sisi kiri-kanan magasen.

Berpindah ke bagian belakang, kita akan melihat popor lipat milik SIG 550 yang terbuat dari hi strength polymer. Popor ini akan melipat ke arah kanan dan menempel ke lubang yang ada di receiver kanan. Untuk melipatnya pun terhitung sangat mudah. Operator tinggal memencet tombol yang ada di pangkal popor, lalu secara bersamaan melipat popor ke arah kanan.

Pada akhirnya, SIG 552 tetap menemukan pengguna di dalam TNI AD yakni Detasemen 81 Penanggulangan Teror, kesatuan khusus dari Kopassus yang disiapkan untuk melaksanakan operasi khusus seperti pertempuran jarak dekat dan operasi pembebasan sandera. Kopassus tidak hanya menggunakan SIG 552, tetapi juga generasi penerusnya seperti SIG SG 552-2 yang sudah dilengkapi sistem rel untuk pegangan tangan depan. (Aryo Nugroho)

Posted : RC/TSM/https://c.uctalks.ucweb.com/personal/index/5b06b80848d544f1bc567558ff4e8b19

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here